OJK, LPS, dan BI Edukasi Mahasiswa FEBI tentang Risiko Keuangan

  • 07 Oktober 2025
  • 04:18 WITA
  • Administrator
  • Berita

FEBI News - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Alauddin Makassar menggelar kuliah umum bersama tiga lembaga pilar ekonomi nasional—Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Bank Indonesia (BI)—di Aula FEBI, Senin, 6 Oktober 2025. Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan pemahaman literasi keuangan untuk menghadapi risiko penipuan dan investasi ilegal.

Kuliah umum tersebut dihadiri Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., serta Wakil Rektor II, Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A. Kehadiran pimpinan universitas menegaskan dukungan terhadap penguatan literasi keuangan di kalangan mahasiswa.

Dalam sambutannya, Prof. Hamdan Juhannis menilai kolaborasi FEBI dengan OJK, LPS, dan BI penting untuk menyiapkan mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan.

“Mahasiswa perlu memahami risiko dan peluang di sektor keuangan agar mampu mengambil keputusan yang tepat setelah terjun ke masyarakat,” ujarnya.

Kepala OJK Sulselbar, Moch. Muchlasin, memaparkan tantangan rendahnya literasi dan inklusi keuangan yang membuat masyarakat rentan menjadi korban penipuan. Ia menjelaskan OJK terus memperluas pengawasan, termasuk pada sektor fintech dan bursa karbon, guna melindungi konsumen jasa keuangan.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan LPS III Makassar, Fuad Zaen, menjelaskan peran LPS dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan. Ia menyebut LPS menjamin simpanan nasabah hingga Rp2 miliar per bank untuk mencegah kepanikan yang dapat memicu penarikan dana secara massal.

Materi kuliah umum dilengkapi pemaparan dari Kepala Perwakilan BI Sulawesi Selatan, Rezki Ernadi Wimanda. Ia menyampaikan kondisi stabilitas ekonomi nasional yang tetap terjaga, dengan inflasi September 2025 tercatat 0,17 persen. Rezki juga menyoroti peran BI dalam mendorong ekonomi daerah melalui program Pinisi Sultan dan percepatan digitalisasi pembayaran menggunakan QRIS.

“Sebagian besar merchant QRIS berasal dari sektor UMKM, dan Makassar menjadi salah satu wilayah dengan adopsi tertinggi,” jelasnya.

Setelah pemaparan materi, mahasiswa mengikuti sesi tanya jawab secara aktif. Kegiatan ditutup dengan kuis interaktif untuk menguji pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.


Kontributor: Farid Fajrin